SAMAN
Karya Ayu Utami
SINOPSIS
Saman, yang memiliki nama
asli yaitu Athanasius Wisanggeni, bergama Katolik, dan mengabdikan dirinya
sebagai Pastor. Wisanggeni ditugaskan sebagai Pastor paroki Parid yang melayani
kota kecil Perabumulih dan Karang Endah, wilayah keuskupan Palembang. Sebelum
sampai pada tempat tugasnya, ia menyempatkan diri ke bekas rumahnya 10 tahun silam.
Setelah beberapa kali ke rumah itu, dan akrab dengan sang pemilik rumah, ia
mendapat kepercayaan untuk tinggal di situ selama pemiliknya ke Jakarta untuk
melahirkan. Ketika tinggal di rumah itu, Wis kembali bisa merasakan hawa-hawa
aneh seprti masa kecilnya. Ia juga bisa mendengar suara adik-adiknya serta
bercakap-cakap dengan bahasa masing-masing. Tiba-tiba Wis mendengar suara gadis
minta tolong dan ia pun berlari ke sumber suara sampai di sebuah sumur di
tengah hutan. Setelah itu Wis berteriak minta tolong pada warga sekitar. Dan
setelah warga berdatangan, ternyata tak seorang pun berani masuk menolong si
gadis. Wis memeranikan diri melakukan itu. Ia dan gadis itu selamat. Gadis itu
bernama Upi. Ia adalah manusia yang kejiwaanya terganggu dan tidak mengerti
bahasa manusia.
Setelah menyelamatkan Upi,
Wisanggeni mengantar Upi ke rumah. Ia kaget saat mengetahui bahwa sebenarnya
Upi diasingkan oleh ibunya di rumah pemasungan yang sangat kecil, tidak lebih
dari baik dari kandang kambing. Merasa tidak tega, dan sedikit demi sedikit
muncul rasa sayang dihatinya, Wis membuatkan rumah pasung baru untuk Upi yang
lebih besar dan nyaman. Tidak hanya itu yang ia lakukan. Melihat keadaan
perkebunan di sana ia merasa prihatin. Ia juga takut jika mereka pindah dari situ
Upi tidak akan mendapat rumah yang lebih baik dari sekarang. Kemudian dengan
izin dari Uskup untuk berkarya di perkebunan, Wis membuat tempat pengolahan
karet sederhana untuk wilayah Lubukrantau itu dan membuat pembangkit listrik.
Suatu ketika, kerusuhan terjadi. Pembangkit listrik buatan Wis dirusak orang.
Dan ternyata orang tersebut adalah orang suruhan perusahaan kelapa sawit yang
ingin membeli lahan perkebunan karet. Dan hanya Wis beserta keluarga Upi sangat
kokoh untuk tidak menjual lahan mereka. Para pembeli itu merasa geram, mereka
mengumpulkan perempuan dan anak kecil dalam surau kemudian membakar seluruh
rumah warga dan menculik Wis di penjara pengasingan. Wis tersiksa dalam penjara
yang membuat dia meragukan adanya Tuhan. Namun, berkat suatu keajaiban ia
akhirnya bisa keluar dari dalam penjara tersebut. Ia mengganti namanya menjadi
Saman.
Saman memiliki empat
sahabat. Shakuntala, seseorang yang membenci ayahnya. Yasmin, seseorang yang
membenci guru dan Laila yang membenci laki-laki. Sementara, Cok tidak bisa
menemukan apa yang harus ia benci. Kebencian Laila pada laki-laki lenyap ketika
ia jatuh cinta pertama kali pada Wisanggeni yang kala itu sebagai mahasiswa
seminari yang ditugaskan membimbing rekoleksi tentang kesadaran sosial di SMP
mereka. Sayangnya, keluarga Minang Laila itu tidak setuju melihat putrinya
bergaul dengan calon Pastor. Dan Yasmin yang Katolik juga tidak menyetujui itu.
Namun, Yasmin pula yang sering membantu pertemuan Laila dengan Wis atas dasar
persahabatan. Semakin berjalannya waktu, semuanya tengah berubah. Laila tidak
lagi mencintai Wisanggeni yang sudah mengganti nama menjadi Saman. Kali ini ia
mencintai Sihar, seseorang yang sudah beristri. Hanya ia sahabat Saman yang
belum menikah.
Saman diselamatkan dari
kebakaran itu oleh Yasmin. Yasmin pun mengajukan agar Saman pergi ke Amerika.
Dari kejadian itu, akhirnya mereka sering berkomunikasi lewat dunia maya.
Tumbuhlah cinta Saman terhadap Yasmin, juga sebaliknya.
TANGGAPAN
Alur yang digunakan adalah
sorot balik dengan bagian tengahnya kembali pada masa kini, intinya alur yang
digunakan bukan hanya kronologis lalu flashback,
tetapi terdapat pemanipulasian waktu yang luar biasa. Pembaca sempat terkecoh
saat membaca hanya bagian awal. Tetapi terjawab sudah semuanya dengan gamblang.
Temanya mengangkat tahun 90’an, sosial budaya yang berkisar tentang percintaan
yang vulgar.
Comments
Post a Comment